Aksi Luwu Raya Memuncak, Massa Bangun Pondasi dan Blokade Trans Sulawesi
LUWU, Caber.id – Aksi demonstrasi serentak menuntut pemekaran Luwu Raya menjadi provinsi baru dalam momentum Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 mendapat antusiasme besar dari masyarakat dan pemuda di berbagai wilayah.
Gelombang massa tercatat turun ke jalan di sejumlah titik strategis, mulai dari Kabupaten Luwu, Kota Palopo, wilayah (Walenrang Lamasi) Walmas, Luwu Utara hingga Luwu Timur.

Aksi gabungan masyarakat, pemuda dan mahasiswa melakukan long march di Masamba, Luwu Utara (dok.media)
Di titik-titik tersebut, massa memblokade jalur utama Trans Sulawesi sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah agar segera merealisasikan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Di wilayah Walmas, aksi berlangsung cukup ekstrem. Massa aksi menebang pohon dan menjadikannya palang untuk menutup total akses jalan.

Gabungan Aliansi Masyarakat dan Pemuda menebang pohon wilayah Walmas di jalan poros trans Sulawesi (dok.media)
Namun, aksi yang paling menyita perhatian publik terjadi di Batulappa, wilayah perbatasan antara Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo.

Masyarakat Luwu terlihat membangun pondasi ditengah jalan. (dok.media)
Di lokasi tersebut, massa tidak hanya menutup pintu masuk utama menuju Kabupaten Luwu, tetapi juga membangun pondasi bangunan di tengah jalan.
Tindakan ini dimaknai sebagai simbol perlawanan sekaligus ekspresi kekecewaan masyarakat atas lambannya respons pemerintah provinsi maupun pusat terhadap tuntutan Daerah Otonomi Baru (DOB) Luwu Raya.
Pondasi yang dibangun itu menjadi representasi keteguhan sikap masyarakat, yang menilai negara telah mengingkari janji historis. Massa mengingatkan kembali pernyataan Presiden Soekarno pada tahun 1958 yang menjanjikan Luwu Raya sebagai daerah istimewa yang berdiri sendiri.
“Kami membangun pondasi ini sebagai bentuk protes terhadap elit pemerintah yang hingga hari ini belum juga merealisasikan pemekaran Luwu Raya,” ujar salah satu massa aksi, Abdul Samad, Jumat (23/1/2026).
Ia menegaskan, blokade jalur perbatasan akan terus dilakukan hingga tuntutan pemekaran dipenuhi. Menurutnya, aksi tersebut merupakan puncak dari kekecewaan panjang masyarakat yang selama puluhan tahun hanya menerima janji tanpa realisasi.
“Ini adalah bentuk kekecewaan masyarakat. Dari dulu kami dijanjikan, tapi sampai hari ini janji itu tidak pernah dituntaskan,” tegasnya.
Aksi tersebut juga mendapat dukungan penuh dari warga sekitar. Terpantau warga bahu-membahu membantu para demonstran, mulai dari menyediakan air, semen, hingga makanan.
Solidaritas itu ditunjukkan sebagai simbol bahwa perjuangan pemekaran Luwu Raya merupakan aspirasi bersama masyarakat.
“Kami ikut membantu karena ini menyangkut kepentingan bersama, kepentingan seluruh masyarakat Luwu Raya,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.


Hingga Jumat malam pukul 23.30 WITA, massa masih bertahan memblokade jalan. Bahkan, sejumlah tenda direntangkan di tengah jalan sebagai bentuk kesiapan masyarakat untuk bertahan, sembari duduk dan makan bersama di lokasi aksi.(srw)