HJL ke-758, dr. Daud Mustakim: Nilai Perjuangan Luwu Terwujud di Pelayanan Publik

Syarwan
Jumat, 23 Januari 2026 07:47 - 147 View

LUWU, Caber.id – Peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 yang dirangkaikan dengan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80 menjadi momentum refleksi atas kesinambungan semangat perjuangan masyarakat Luwu di tengah dinamika zaman.

Jika pada masa lalu perjuangan rakyat Luwu berfokus pada mempertahankan tanah dan martabat daerah, maka pada era pembangunan saat ini, spirit tersebut diwujudkan melalui pemenuhan hak-hak dasar masyarakat, salah satunya di sektor pelayanan kesehatan.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batara Guru, dr. Daud Mustakim, menyampaikan ucapan selamat atas peringatan HJL ke-758 dan HPRL ke-80.

Ia menegaskan bahwa momentum bersejarah ini harus terus dijaga sebagai nilai budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Luwu.

“Selamat Hari Jadi Luwu ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu ke-80. Perjuangan rakyat Luwu adalah nilai budaya yang harus senantiasa dijaga dan diwariskan. Semangat itu harus tercermin dalam pelayanan publik yang berkualitas demi menjamin kesejahteraan seluruh masyarakat,” ujar dr. Daud dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).

Menurutnya, penguatan layanan rumah sakit serta peningkatan fasilitas kesehatan merupakan instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hal tersebut sekaligus menjadi wujud nyata kehadiran negara dan pemerintah daerah dalam melanjutkan nilai-nilai perjuangan para leluhur.

“Tenaga kesehatan adalah garda terdepan dalam pelayanan kemanusiaan. Profesionalisme dalam pelayanan harus berjalan selaras dengan nilai Singkeru Inninawa Lipu Dimingede sebagai penegasan identitas dan jati diri budaya Luwu,” jelasnya.

Selain sebagai pimpinan rumah sakit, dr. Daud juga dikenal sebagai Ketua Karang Taruna Kabupaten Luwu. Dalam kapasitas tersebut, ia menaruh harapan besar terhadap peran pemuda dalam mengawal perjuangan pemekaran Luwu Raya yang dinilainya lahir dari kesadaran kolektif masyarakat.

“Kita melihat hari ini para pemuda dengan kesadaran bersama menginginkan kemandirian daerah agar dapat dikelola secara mandiri. Ini merupakan manifestasi semangat leluhur yang menjadi identitas dan karakter pemuda Luwu,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya menjaga etika, adab, serta kearifan lokal dalam menyampaikan aspirasi. Menurutnya, setiap bentuk perjuangan harus tetap berada dalam koridor nilai budaya dan adat istiadat Luwu.

“Keinginan terbentuknya Luwu Raya adalah harapan kita bersama. Namun sebagai pemuda Luwu, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara elegan, beradab, serta menjunjung tinggi nilai budaya yang kita warisi,” tegasnya.

Lebih jauh, dr. Daud menekankan bahwa pemuda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam mendorong pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Semangat juang tersebut harus diwujudkan melalui kontribusi nyata di berbagai sektor.

“Pemuda Luwu harus aktif berkontribusi melalui pengabdian sosial, inovasi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia. Pembangunan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga membangun manusia yang berkarakter, berdaya saing, dan peduli terhadap daerahnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, keterlibatan pemuda di sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, dan pelayanan publik menjadi kunci keberlanjutan pembangunan daerah. Pemuda juga diharapkan mampu menjembatani nilai-nilai budaya Luwu dengan tuntutan kemajuan zaman.

“Dengan berpijak pada nilai budaya, pemuda dapat menghadirkan gagasan-gagasan progresif untuk mendorong tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik yang lebih baik,” pungkasnya.