Pemuda Luwu Raih Gelar Doktor di Usia 34 Tahun, Angkat Bahasa Tae’ ke Panggung Akademik Internasional
JAKARTA, Caber.id – Fahrul Rizal, mahasiswa Program Doktor (S3) Linguistik Terapan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), resmi meraih gelar Doktor pada tahun 2025 di usia 34 tahun.
Dalam sidang promosi doktornya, Fahrul mempertahankan disertasi berjudul “Pemertahanan Bahasa Tae’ di Kabupaten Luwu”, penelitian mendalam tentang upaya menjaga eksistensi bahasa daerah Tae’ di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial.
Capaian ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Tana Luwu, Sulawesi Selatan, sekaligus wujud nyata kontribusi putra daerah dalam pelestarian bahasa dan budaya lokal.
“Penelitian ini saya persembahkan untuk tanah kelahiran saya, Tana Luwu. Dari desa kecil pun, kita bisa memberi arti bagi bangsa,” ujar Fahrul dengan mata berkaca-kaca seusai sidang di kampus UNJ, Jakarta.
Perjalanan Hidup yang Inspiratif
Fahrul Rizal, akrab disapa Ichal, lahir di Desa Cimpu, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Rustam Daeng Massuro dan Nurhaeda, petani penggarap sederhana, serta suami dari Fipin Puspita.
Meski hidup dalam keterbatasan, semangat orang tuanya untuk menyekolahkan anak-anak menjadi fondasi kuat bagi karakter dan keteguhan Fahrul.
“Hidup saya ditempa oleh kesederhanaan dan penderitaan, tapi dari sanalah saya belajar arti perjuangan dan rasa syukur,” tuturnya.

Buah Doa dan Dukungan Keluarga
Dalam suasana haru, Fahrul menegaskan bahwa pencapaiannya bukan semata hasil kerja keras pribadi, tetapi juga buah dari doa, cinta, dan pengorbanan keluarga.
“Gelar ini saya persembahkan untuk istri tercinta, kedua orang tua, almarhumah kakak, dan seluruh saudari saya. Semua ini adalah buah cinta dan doa mereka,” ucapnya penuh haru.
Dukungan sang istri disebutnya menjadi energi besar selama menempuh studi doktoral di Jakarta.
“Saya percaya, doa keluarga adalah kekuatan paling dahsyat. Mereka bukan hanya mendoakan, tapi juga memberi makna dalam setiap langkah,” tambahnya.
Jejak Pendidikan
- SDN 247 Tondo Tangnga (1997–2003)
- MTs 17 Cimpu (2003–2006)
- SMAN 1 Belopa (2006–2009)
- S1 Pendidikan Bahasa Inggris, STAIN Palopo (2009–2013)
- S2 Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Makassar (2015–2017)
- S3 Linguistik Terapan, Universitas Negeri Jakarta (2019–2025).
Karya dan Dedikasi Akademik
Selain aktif meneliti, Fahrul dikenal sebagai penulis produktif. Beberapa karyanya antara lain:
- Strategi Pemertahanan Bahasa Daerah: Bahasa Tae’ di Kabupaten Luwu (2025)
- Ragam Bahasa Daerah: Simbol Persatuan di Tengah Perbedaan (2024)
- Buah Bibir Orangtua: Petuah Sakral Rustam–Nurhaeda (2024)
- Doa yang Paling Kucintai — buku mahar pernikahannya
- English for Nursing (2020)
- Bentangkan Optimisme Kolektif (2018)
Ia juga menjadi editor buku Dinamika Pemilu Kota Palopo (2024) dan peneliti hibah Kemenristekdikti (2019).
Karya ilmiahnya berjudul “The Preservation of Tae’ Language in Luwu Regency (An Ethnographic Study)” terbit di Pakistan Journal of Life and Social Sciences (PJLSS), jurnal internasional bereputasi Scopus, pada 2025.
Aktif di Dunia Organisasi dan Sosial
Di luar akademik, Fahrul aktif di berbagai organisasi sosial dan kepemudaan, di antaranya:
- Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Palopo (2024–2028)
- Ketua Bawaslu Wara Selatan Kota Palopo (2022–2024)
- Ketua Komisi Pendidikan dan Kebudayaan PB HMI (2020–2022)
- Wakil Sekjen PB HMI (2018–2020)
- Ketua Badko HMI Sulselbar (2015–2017)
- Ketua Umum HMI Cabang Palopo (2013)
- Dosen STIKes Bhakti Pertiwi Luwu Raya Palopo (2017–sekarang)
Fahrul juga menjadi pembicara di berbagai forum ilmiah, termasuk Nura-Icon 2024: 3rd Nusantara Raya International Conference dengan tema “Locality of Language, Literary, and Culture in Global Development”, di mana ia mempresentasikan penelitian “Shifting and Maintaining the Tae’ Language in Belopa District.”
Cinta Tanah Luwu dan Warisan Budaya
Sebagai putra daerah, Fahrul tak lupa menyinggung warisan sastra Tana Luwu yang mendunia.
“Capaian ini saya persembahkan untuk Tana Luwu tercinta rumah lahirnya karya sastra terpanjang di dunia, I La Galigo, yang diakui UNESCO sebagai the long term of memory mengalahkan Mahabharata dan Ramayana. Semoga ini menginspirasi generasi muda untuk mencintai ilmu dan melestarikan budaya daerah,” ujarnya menutup sidang promosinya.