Ratusan Massa Aksi Tutup Poros Samppodo, Desak Luwu Raya Jadi Provinsi
PALOPO, Caber.id – Aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Masyarakat Luwu bersama mahasiswa yang tergabung di Cipayung Palopo pada Jumat (23/1/2026) menyebabkan Jalan Poros Sampoddo, jalur utama Trans Sulawesi tertutup total.
Akibat penutupan jalan, antrean panjang kendaraan terjadi hingga perbatasan Kota Palopo dan Kabupaten Luwu.
Aksi tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758. Ratusan mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan menyuarakan tuntutan pemekaran Luwu Raya sebagai provinsi baru.
Jenderal Lapangan aksi, Ardi Dekal, menegaskan bahwa demonstrasi ini merupakan aspirasi kolektif masyarakat Luwu dan akan terus berlanjut hingga tuntutan pemekaran direalisasikan.
“Ini bukan niat pribadi, tetapi niat seluruh Wija to Luwu. Aksi ini tidak akan pernah padam sampai tuntutan masyarakat Luwu terpenuhi,” tegas Ardi dalam orasinya.
Dibandingkan aksi-aksi sebelumnya, demonstrasi kali ini dinilai lebih masif. Ratusan peserta aksi memadati badan jalan Poros Sampoddo, menunjukkan eskalasi dukungan publik terhadap tuntutan pembentukan Provinsi Luwu Raya.

Ribuan massa aksi terlihat memadati badan jalan poros Sampoddo, Kota Palopo (dok.media)
Salah satu aktivis Pemuda Muhammadiyah Palopo, Sonne Pasulle, menyatakan bahwa perjuangan tersebut merupakan bukti kuat keinginan murni masyarakat Luwu lintas generasi.
“Meski di bawah terik matahari, perjuangan ini adalah bentuk ikhtiar yang terus digaungkan masyarakat dari masa ke masa,” ujarnya saat berorasi.
Ia juga menegaskan bahwa prinsip Toddopuli Tommalara merupakan identitas dan nilai perjuangan yang telah mengakar dalam jati diri masyarakat Luwu.
“Perjuangan kita tidak berhenti di sini hingga berkas DOB Luwu Raya berada di meja Presiden Prabowo untuk ditandatangani. Ini adalah keinginan murni masyarakat dan juga amanat para leluhur,” tandasnya.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya pencabutan moratorium Daerah Otonomi Baru (DOB), desakan kepada Gubernur Sulawesi Selatan untuk mengeluarkan rekomendasi pemekaran Provinsi Luwu Raya, serta permintaan kepada Presiden Prabowo Subianto agar memberikan otonomi khusus bagi Provinsi Luwu Raya.
Aksi ini juga diikuti oleh sejumlah aktivis yang sebelumnya terlibat dalam peristiwa Aksi Walmas Berdarah pada 2012, sebagai simbol kesinambungan perjuangan masyarakat Luwu.
Meski sempat terjadi ketegangan antara pengendara dan massa aksi akibat penutupan jalan, situasi tetap kondusif setelah masyarakat sekitar turut membantu meredam emosi dan memberikan dukungan terhadap jalannya aksi.(srw)